Langsung ke konten utama
Solusi Bisnis

Aplikasi Kasir Percetakan vs Software Akuntansi Umum: Mana yang Cocok untuk Toko Cetak dengan Order Walk-In dan Online?

Toko cetak yang melayani order walk-in sekaligus online sering dipaksa memilih antara aplikasi kasir percetakan dan software akuntansi umum. Padahal keduanya menyelesaikan masalah yang berbeda. Ini perbandingan praktisnya dari sisi lantai produksi.

Oleh Indra Fani6 menit baca

Bayangkan sore di toko cetak. Seorang pelanggan walk-in menyerahkan flashdisk berisi desain spanduk 3x1 meter frontlite 280 gram, minta harga per meter, lalu bayar DP. Di meja sebelah, operator lain sedang membalas chat pelanggan online yang memesan 200 pcs stiker vinyl cutting untuk kemasan. Dua order masuk di jam yang sama, dua alur pembayaran berbeda, dan satu mesin cetak yang harus dibagi.

Di sinilah pertanyaan muncul: cukup pakai software akuntansi umum yang sudah banyak beredar, atau perlu aplikasi kasir percetakan yang memang dibuat untuk toko cetak? Jawabannya jarang salah satu, tapi Anda perlu tahu di titik mana masing-masing alat mulai gagal menangani pekerjaan.

Kenapa software akuntansi umum kewalahan di meja kasir percetakan

Software akuntansi umum dirancang untuk transaksi yang satuannya jelas: satu barang, satu harga, satu kuantitas. Di percetakan, satu order bisa berisi tiga item dengan satuan berbeda — spanduk dihitung per meter persegi, stiker per pcs, dan jilid per buku. Harga spanduk 3x1 meter frontlite 280 gram di kisaran Rp 25.000–Rp 35.000 per meter persegi, sementara stiker vinyl cutting A3+ bisa Rp 15.000–Rp 25.000 per lembar tergantung tingkat kerumitan mata ayam.

Kasir yang harus menghitung manual lalu memasukkan satu baris "jasa cetak" ke software akuntansi akan kehilangan rincian. Saat pelanggan komplain dua minggu kemudian karena ukuran ternyata 2,8 x 0,9 meter, tidak ada jejak perhitungan yang bisa ditelusuri. Nota hanya menyebut nominal, bukan spesifikasi.

Belum lagi soal DP. Order walk-in biasanya DP 50 persen, order online dari pelanggan baru sering diminta DP lebih besar untuk menutup modal bahan. Uang muka ini bukan pendapatan — ia utang yang harus dilunasi saat barang diambil. Software akuntansi umum bisa mencatatnya lewat jurnal manual, tapi kasir di depan tidak akan melakukannya sambil melayani antrean.

Bagian mana yang sebenarnya dikerjakan aplikasi kasir percetakan

Aplikasi kasir percetakan mengambil beban di titik transaksi. Hitungan harga per meter atau per pcs, pemisahan DP dan pelunasan, serta nota yang mencantumkan bahan dan ukuran semuanya berjalan di satu layar. Kasir menekan beberapa tombol, nota keluar dengan rincian yang bisa dipakai operator produksi sebagai acuan potong bahan.

Di sinilah aplikasi kasir percetakan berbeda dari mesin kasir ritel. Ia harus paham bahwa 1,5 meter linier flexi roll 3,2 meter tidak sama dengan 1,5 meter persegi. Ia juga harus bisa menahan order sebagai piutang sampai pelunasan, bukan langsung menutup transaksi.

Yang sering terlewat: antrean pelanggan. Toko cetak punya dua jenis pelanggan di jam sibuk — yang datang bawa file siap cetak dan yang masih perlu konsultasi desain. Kalau keduanya berdiri di satu baris tanpa pemisahan, pelanggan yang cuma mau ambil stiker jadi menunggu 20 menit di belakang orang yang mengubah layout undangan. Pengaturan antrean terpisah untuk cetak langsung dan yang perlu desain, dengan pemanggilan nomor ke loket lewat suara peramban dan nama loket di layar TV, membuat meja depan tidak saling mengunci.

Di mana software akuntansi umum tetap dibutuhkan

Begitu order selesai dan uang masuk, pertanyaan berubah. Berapa HPP sebenarnya order spanduk tadi? Berapa sisa roll flexi 280 gram setelah dipotong? Apakah laba kotor bulan ini masih sehat setelah dikurangi listrik, tinta eco solvent, dan gaji operator?

Software akuntansi umum kuat di laporan keuangan, neraca, dan arus kas. Tapi ia buta terhadap stok bahan. Ia tidak tahu bahwa roll frontlite tinggal 12 meter, dan tidak akan memperingatkan saat order berikutnya membutuhkan 15 meter.

Percetakan yang mencoba menyambung keduanya dengan ekspor-impor data biasanya berhenti di bulan kedua. Rekap ulang dari nota kertas ke spreadsheet lalu ke software akuntansi memakan waktu, dan selisih kas laci baru ketahuan saat tutup buku. Padahal selisih Rp 50.000 di laci bisa ditelusuri dalam hitungan menit kalau setiap shift kasir ditutup dengan rekonsiliasi: modal awal, penjualan tunai, refund, kas operasional, dan uang tunai akhir dibandingkan otomatis, lengkap dengan slip setoran yang bisa dicetak.

Cara memutuskan tanpa membeli dua sistem sekaligus

Pemilik toko cetak yang orderannya campur walk-in dan online biasanya butuh tiga hal dalam satu alur: nota yang benar saat transaksi, stok bahan yang berkurang otomatis saat produksi, dan laporan laba yang bisa dibaca tanpa bantuan akuntan.

Urutkan prioritasnya begini:

  1. Kalau masalah terbesar Anda adalah kasir sering salah hitung harga per meter dan DP tidak tercatat rapi, mulai dari aplikasi kasir.
  2. Kalau masalahnya stok flexi dan art carton sering habis tanpa peringatan, Anda butuh software ERP percetakan yang menyatukan pembelian ke supplier, pemakaian bahan, dan HPP per order.
  3. Kalau masalahnya laporan bulanan selalu telat dan tidak ada yang tahu order mana yang rugi, sistem yang menyatukan keduanya lebih hemat daripada dua langganan terpisah.

Pertanyaan yang perlu Anda jawab jujur: berapa lama kasir Anda butuh untuk menutup satu order yang berisi DP, pelunasan, dan tambahan biaya finishing? Kalau jawabannya lebih dari tiga menit, masalahnya bukan di akuntansi — masalahnya di alur transaksi.

Titik di mana order campuran mulai bocor

Order walk-in dan online bertabrakan paling parah di dua tempat: antrean meja depan dan pencatatan pembayaran.

Pelanggan online yang transfer DP lewat bank masuk sebagai piutang, bukan kas laci. Kalau kasir mencatatnya sebagai penjualan tunai, laporan shift langsung meleset. Sebaliknya, pelanggan walk-in yang bayar tunai lalu minta sisa kembalian ditahan untuk order berikutnya membuat laci kasir tidak cocok dengan sistem. Dua skenario ini lazim terjadi di toko yang orderannya campur, dan keduanya tidak bisa diselesaikan oleh software akuntansi umum tanpa entri manual.

Platform seperti InkPoint.id menempatkan persoalan ini di satu tempat: order dibuat dari meja kasir, status pembayaran ikut terbawa ke antrean produksi, dan laporan shift kasir memisahkan penjualan per metode pembayaran termasuk potongan pajak. Kepala toko bisa melihat rata-rata lama tunggu pelanggan dan nomor antrean yang terlewati, sementara staf finance mengunduh rekap shift ke PDF atau Excel dengan rentang tanggal tertentu.

Yang bisa Anda lakukan minggu ini

Sebelum memutuskan langganan apa pun, catat dulu satu hal: berapa banyak order dalam sehari yang pembayarannya tidak lunas di tempat. Kalau angkanya lebih dari sepertiga, software akuntansi umum akan menyulitkan Anda karena setiap sisa pembayaran jadi jurnal manual.

Mulai dari alur yang paling sering bocor. Rapikan dulu perhitungan harga per meter dan pencatatan DP di kasir, lalu sambungkan ke stok bahan dan laporan laba. InkPoint.id dibangun sebagai platform manajemen bisnis digital printing dan percetakan yang menyatukan kasir, antrean pelanggan, stok bahan, dan laporan — supaya order walk-in dan online masuk ke satu catatan yang sama, bukan dua buku berbeda.

Topik: aplikasi kasir percetakan, software akuntansi percetakan, ERP percetakan, manajemen order cetak, bisnis percetakan

Bagikan artikel ini

WhatsAppFacebook

Lihat semua artikel